Beginikah Wajah Pelayanan Puskesmas di Indonesia ??

Sudah lama nggak curhat di blog nih, ada sesuatu yang mengganjal hati saya tentang pelayanan medis di Puskesmas yang selama ini jadi rujukan kami sekeluarga ( Puskesmas Wonokusumo Surabaya ). Kenapa kami seringnya ke Puskesmas? bukan karena enggak ada duit, karena selama ini anak dan suami saya cocoknya disana entah itu sugesti atau bukan.
Selama ini yang saya rasakan sangat jauh pelayanannya dengan rumah sakit swasta ( ya iyalah bayarnya aja beda jauh juga ) Kalau saya di rumah sakit swasta konsultasi dengan dokternya enak, saya ceritakan semua keluhan saya lalu dokternya pun berinteraksi, beda banget ketika di Puskesmas paling yang ditanyain "sakitnya apa?" mau kita jelasin sampe berbusapun mulut dokternya gak akan ngomong apa2 langsung aja resepnya disodorin. Mungkin dokter-dokter yang bertugas di Puskesmas dibekali ilmu dukun dan ahli membaca pikiran yaa, hanya dengan beberapa penjelasan kalimat pasien dan nyuk nyuk nyuk nempelin stetoskop bentar aja ke badannya pasien udah tau penyakitnya apa.
Itu yang saya alami kalo pas saya, suami ato ibu yang lagi sakit.
Ini kejadian belum lama, tanggal 30 Juli 2014 suami periksa ke Puskesmas Wonokusumo dengan keluhan demam kalo malam hari, perut sakit, pusing, yaa seperti gejala Thypus. Disuruhlah dia tes darah, waktu itu biayanya Rp 40.000. Setelah menunggu beberapa menit keluarlah hasil tesnya, balik lagi deh suami ke ruang periksa.Kata yang periksa "nggak ada Thypusnya kok, hasil lab nya bagus" dikasih resep paracetamol sama 2 jenis obat generik yang entah namanya apa. Sehari dua hari obatnya diminum teratur tapi kok masih aja gejalanya nggak reda malah semakin menjadi demamnya.
Hari Jumat tanggal 01 Agustus 2014 datang lagi suami saya ke Puskesmas tersebut, betapa terkejutnya kata dokternya ( kali ini cewek ) " Lhoh, bapak ini positif Thypus.Hasil lab nya menunjukkan kalo Thypus" 
Suami " Ya mana saya tau bu dokter, wong kata mas nya yang periksa saya kemarin hasil lab nya bagus"
Dokter cewe (bicara sama temannya di ruangan yang sama) " mbak,,, mas X mana?ngawur aja ini hasilnya Thypus kok dibilang gak pa pa"
Akhirnya dikasihlah suami saya resep antibiotik untuk mengobati Thypusnya.
Karena males ba bi bu ya udah kami pulang aja setelah ambil obatnya.

Terus yang jadi pertanyaan kami " Yang periksa suami saya hari Rabu tanggal 30 Juli 2014 itu siapa ?? "
Untung suami punya inisiatif kembali lagi, coba kalo nggak ??
Ini kejadian baru 1 orang, entah berapa banyak lagi yang mengalami hal serupa.

Kejadian lagi beberapa minggu sebelumnya, anak saya batuk pilek saya ya bilang " anak saya batuk pilek dok "
nyuk nyuk nyuk stetoskop ditempelin kedadanya Ara, langsung deh dia nulis resep dan disodorkan ke saya tannpa mengucap sepatah katapun. Tau sih saat itu bulan puasa, tapi apakah tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya ?? setidaknya " gak pa pa bu obatnya dihabiskan ya" atau paling tidak senyuman.

Masih banyak sih kejadian-kejadian yang membuat saya pengen marah dan protes secara frontal didepan mereka, tapi apa daya lha wonk anak, ibu dan suami cocoknya disana. Kecuali saya, kalo belum ketemu dokter di RS Al Irsyad gak bakalan sembuh sakitnya :D 

Pengen nulis saran ke Mentri Kesehatan " Bu, tolong donk petugas di Puskesmas itu yang ramah dan melayani Pasiennya dengan setulus hati. Mereka digaji juga dari Pajak yang kami bayarkan, jangan karena kami di Puskesmas hanya bayar Rp 5.000 saja atau bahkan gratisan terus petugas-petugas disana memperlakukan kami dengan seenaknya "

Comments